Jangan Lupa Pikirkan Lighting!

Ketika mendekor / merenovasi rumah, biasanya hal yang kita perhatikan adalah material yang digunakan, warna, dan furniture. Tapi saya jarang melihat rumah atau pasangan suami/istri yang memikirkan pemasangan lighting di rumah. Kebanyakan rumah hanya sekedar pasang lampu fluorescent di titik-titik yang sudah dipasangi kabel.

Padahal, lighting merupakan faktor penting dalam mendukung aktifitas kita di dalam rumah, terutama waktu malam. Lighting juga sangat mempengaruhi mood kita ketika di rumah. Dan desain lighting tidak harus mahal, asal direncanakan sejak awal (jangan tambal sulam).

Hal-hal utama yang perlu anda pikirkan sebelum mendesain lighting rumah:

1. Dimana anda akan meletakkan furniture. Lighting yang serasi dengan posisi furniture akan membuat furniture anda lebih “nampak” dan ruangan lebih serasi. Downlight yang tepat berada di atas furniture (mis: meja pajangan) juga bisa membuat barang-barang yang anda taruh di atas meja lebih hidup.

2. Dimana anda akan meletakkan hiasan dinding. Tentunya anda memasang hiasan dinding untuk dilihat orang … kalau anda sejak awal menentukan titik2 hiasan dinding, anda bisa memasang “spot light” (lampu yang diarahkan secara spesifik ke titik tertentu) untuk membuat lukisan dan hiasan dinding anda lebih ter-expose.

3. Posisi anda ketika membaca, cuci piring, masak, sikat gigi, mandi, main komputer, dsb. Aktifitas2 ini membutuhkan lighting yang cukup, karenanya anda akan membutuhkan “task lighting” disini (task lighting: lampu yang difungsikan hanya ketika kita melakukan kegiatan tertentu, mis: lampu baca, lampu make up, lampu meja belajar, etc.)

4. Kebiasaan anda di ruang tamu dan kamar tidur. Misalnya, kalau kamar tidur anda benar2 hanya dipake buat tidur (nggak ada kaca besar u/ coba2 baju, ga ada meja make up, ga seneng baca), ya ga usah terang2. Taruh lampu meja di bedside table dan satu lampu fluorescent untuk seluruh kamar sudah cukup.

Tapi, untuk contoh, saya dan suami seneng baca / nonton TV di kamar sebelum tidur. Saya seneng baca buku di kamar. Meja make up juga di kamar. Jadi kami memasang beberapa task lighting: lampu baca di kiri-kanan tempat tidur, down light (lampu halogen yang sinarnya mengarah ke bawah, tidak memancar) di atas kursi baca, dan lampu make up yang menyala otomatis ketika saya membuka laci make up saya. Selain itu, kami memasang false ceiling di sekeliling kamar kami (lihat gambar).

5. Jenis lampu yang anda ingin gunakan. Secara umum, ada beberapa jenis lighting yang bisa anda gunakan:

Incandescent / fluorescent light: bentuknya bisa panjang atau berbentuk bohlam. Bedanya: incandescent light ketika dinyalakan dia langsung nyala (ga pake kedip2 dulu) tapi pemakaian listriknya lebih boros. Lampu fluorescent lebih hemat energi, tapi kalau dinyalakan kedip2 dulu beberapa kali. Kebanyakan lampu hias yang dijual di toko2 menggunakan bohlam incandescent / fluorescent. Karakteristik utama dua lampu ini adalah sinarnya yang memancar ke segala arah. Dua jenis lampu ini baik digunakan untuk lampu utama di kamar, ruang tamu, ruang makan.

Halogen down light: bohlam-nya kecil sekali, dan sinarnya mengarah ke titik tertentu. Saya dan suami menggunakan lampu ini di titik-titik dimana kami banyak melakukan aktifitas sekaligus untuk menandai batas-batas ruangan (mis: di 3 sudut L-shaped sofa kami – selain sebagai penerang, juga sebagai penanda batas ruang tamu kami). Kelemahannya: halogen lebih boros listrik dari incandescent light dan bikin panas karena sinarnya terkumpul di satu titik.

Halogen spot light: bohlamnya halogen, tapi arah lampunya bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan. Kami menggunakan spot light untuk men-highlight lukisan di dinding dan feature wall kami.

Lihat denah lighting bedroom kami untuk detailnya.

6. Dimana batas-batas ruangan anda. Misalnya, kalau ruang tamu-ruang makan-koridor anda merupakan satu ruang ruangan terbuka, anda perlu menentukan dimana batas ruang tamu dengan ruang makan, ruang tamu dengan koridor, dsb. Salah satu fungsi lighting dan furniture adalah penentu batas ruangan, dan kalau batas ruangan anda jelas, anda mudah menyusun lighting dan berapa steker (switch) yang anda perlukan.

Misalnya, di kamar saya, kami menentukan batas antara “area tidur” dan “area baca / make up” di kamar dengan meletakkan halogen downlight secara paralel (lihat gambar). Ada 4 light switch terpisah sehingga kami bisa menyalakan halogen downlight hanya di area tidur, hanya di area baca, hanya lampu di belakang pintu masuk, atau hanya menyalakan lampu fluorescent kalau butuh kamar terang benderang.

For most nights, kalau hanya pakai kamar untuk tidur, kami hanya menyalakan 2 lampu di samping ranjang. Lihat gambar untuk jelasnya.

Enam hal ini bisa anda lakukan sendiri dengan bantuan lihat-lihat apartemen / rumah orang lain dan lihat-lihat foto di majalah interior design. Kalau masih ada pertanyaan, tinggal drop comment dan saya akan coba bantu🙂

* N.B. : Gambar denah lighting rumah saya menyusul. Scanner-nya lagi rusak niy …😦

~ by elinski on November 8, 2008.

7 Responses to “Jangan Lupa Pikirkan Lighting!”

  1. saya tertarik dengan detail rumah anda. bisa minta tolong supaya diuploadkan gbr dan denah rumah anda?

  2. Hi Julinda – scanner saya sampe sekarang masih trouble. Sudah re-install scanner driver-nya, tapi tetep ‘tu scanner undetected di komputer. Tapi ada teman yang akan coba benerin minggu ini, mudah2an kali ini tokcer. Saya akan kirim e-mail kalo postingnya sudah dilengkapi gambar ya🙂

  3. Nice info…waiting for the pictures…

  4. mo tanya, kalo pencahayaan utamanya pake lampu halogen bs ga? Sekedar info, saya ngekos, jadi kamar itu buat blajar, tidur dan berbagai hal. Biasanya kalo ga baca/blajar saya slalu pake 2 lampu tidur/lampu hias di atas meja. 1 lampu utama di plafon jarang dinyalaian. Kemarin saya mencoba agar kamar saya keliatan agak dramatik dgn memakai philips soft tone kuning,tapi rasanya malah jadi gelap. Oia kalo pake lampu halogen jadinya terlalu panas ga? trus merk dan tipe apa yg cocok bwt kamar ukuran 3,5x 3.5 m. Berapa wattnya dan harganya? belinya di mana? tlg bgt ya dibales. Salam kenal! Agustin

  5. Bisa kok pake halogen. Tapi resikonya ya ruangan jadi agak panas kalau halogennya dinyalakan. Kalau kamarnya ngekos, saya usul beli halogen yang juga sekaligus track lighting (arah light-nya bisa dipindah-pindah tergantung kebutuhan), jadi satu diarahkan ke ranjang (just in case seneng baca dari ranjang), satu ke meja belajar, dan satu entah ke dresser / meja rias atau ke bagian depan lemari pakaian, atau kaca cermin.

  6. tapi miss, colokan lampu saya yg di plafon cuma 1. Dan itu ga menjorok ke dalam kayak di rumah2 modern skarang, jadi lampunya itu menjorok kluar gitu. Jadi bs dibayanginlah kalo salah warna, atau pilih lampu jadinya kamar itu silau bgt. Itu track lightig brapa harganya? wattnya brapaan miss?

  7. Track lighting memang cuma perlu 1 colokan kok. Track lighting harganya bervariasi, tergantung watt dan design-nya. Coba aja banding2 di bbrp toko lampu🙂 u/ liat berapa watt yang cocok, tanya aja ama tukang lampunya, karena ukuran ruangan menentukan berapa watt yg diperlukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: